Cara Belajar yang Efektif Ala Mahasiswa

A. Pendahuluan

Sebelum kita membahas secara jauh tentang cara belajar yang efektif perlu kiranya kita menengok terlebih dahulu  tentang Psikologi Pendidikan, karena pada dasarnya cara belajar efektif merupakan bagian pembahasan dari Psikologi Pendidikan. Oleh karena itu sebelum membahas lebih jauh tentang Cara Belajar yang Efektif perlu kiranya kita tau apa sih Psikologi Pendidikan itu??

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

B. Belajar

Menurut Slavin dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Sedangkan menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.

Dapat disimpulkan bahwa Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu secara bertahap sehingga menghasilkan suatu perubahan yang beraneka ragam seperti competencies, skills, attitude, dan pemahaman yang lebih baik.

C. Ciri-ciri belajar

Adapun ciri – ciri belajar adalah sebagai berikut:

–         Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengethauan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor);

–         perubahan itu merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan . interaksi ini dapat berupa interaksi fisik dan psikis; (3) perubahan  perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen.

D. Cara Belajar yang Efektif

Cara Belajar yang efektif merupakan usaha yang dilakukan oleh individu untuk memenej waktu agar usaha untuk belajar bias menjadi lebih baik. Adapun di bawah ini merupakan cara – cara belajar yang baik, antara lain:

  • Bertanggung jawab dan Kewajiban

Tanggung jawab merupakan tolak ukur sederhana di mana kamu sudah mulai berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya dalam mencapai kesuksesan belajar. Seorang Mahasiswa harus tau Tanggung jawab dia sebagai mahasiswa itu apa???…. dan mengerti kewajibannya baik yang bersifat individu maupun kelomp

  • Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya.

Tentukan sendiri mana yang penting bagi dirimu.  Jangan biarkan teman atau orang lain mendikte kamu apa yang penting.

  • Kerjakan dulu mana yang penting.

Kerjakanlah dulu prioritas-prioritas yang telah kamu tentukan sendiri.  Jangan biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.

  • Memilih Metode Pembelajaran

Setiap individu kemampuan daya tangkapnya berbeda – beda dalam memahami sesuatu. Oleh karena itu pemilihan metode pembelajaran seperti, bercerita, merangkum, diskusi dll itu sangat penting.

  • Memahami Materi

Sebelum materi diterangkan oleh Dosen sebaiknya setiap individu harus memahami konsep dari materi tersebut, apabila konsep sudah dikuasai nantinya apabila sudah diterangkan oleh dosen kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih baik (skemata) J. Peaget.

  • Mencatat (merangkum)

Usaha ini adalah salah satu usaha yang simple dan mudah, dalam artian setiap dosen menerangkan sebaiknya kita mencatat apa yang merupakan bagian penting dari apa yang diterangkan oleh dosen.

  • Implementasi

Dari cara2 di atas belum lengkap jika apa yang sudah kita lakukan tidak diimplementasikan terhadap kehidupan sehari, contoh study club, belajar kelompok, memberikan penjelasan pada teman yang kurang faham.

Cara – cara di atas merupakan usaha agar kita menjadi lebih baik, tapi perlu kita ketahui manusia mempunyai daya upanya dan kelemahan…. So selamat mencoba… n Good Luck

Paradigma Penelitian Kualitatif

PARADIGMA PENELITIAN KUALITATIF

A. Pengertian Paradigma

Penelitian pada hakekatnya merupakan suatu upaya untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar kebenaran dilakukan oleh para filosof, peneliti, maupun oleh para praktisi melalui model – model tertentu. Model tersebut biasanya dikenal dengan paradigma. Paradigma menurut Bogdan dan Biklen (1982:32), adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan penelitian.[1]

Dalam penelitian kualitatif “teori” lebih ditempatkan pada garis yang digunakan dibidang sosiologi dan antropologi dan mirip dengan istilah paradigma (Ritzer, dalam Bogdan & Biklen, 1982). Paradigma adalah kumpulan tentang asumsi, konsep, atau proposisi yang secara logis dipakai peneliti. [2] Peneliti yang bagus menyadari tentang dasar teori mereka dan menggunakannya untuk membantu mengumpulkan dan menganalisis data.

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962) dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970),  Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik.[3] Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs, sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.

Norman K. Denzin membagi paradigma kepada tiga elemen yang meliputi; epistemologi, ontologi, dan metodologi. Epistemologi mempertanyakan tentang bagimana cara kita mengetahui sesuatu, dan apa hubungan antara peneliti dengan pengetahuan. Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar tentang hakikat realitas. Metodologi memfocuskan pada bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan. Dari definisi dan muatan paradigma ini, Zamroni mengungkapkan tentang posisi paradigma sebagai alat bantu bagi ilmuwan untuk merumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan;

  1. Apa yang harus dipelajari;
  2. Persoalan-persoalan apa yang harus dijawab;
  3. Bagaimana metode untuk menjawabnya;
  4. Aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh.

Dapat disimpulkan bahwa paradigma adalah pandangan yang mendasar dari para ilmuan untuk mencari sebuah kebenaran dari realita social dan dalam penelitian tersebut, terdapat suatu kumpulan tentang asumsi, konsep, atau proposisi yang secara logis dipakai peneliti dalam mengungkap kebenaran realita social tersebut .

B. Macam – macam Pardigma

Ada dua paradigma besar yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu – ilmu social dan ilmu tentang manusia, yaitu

1. Pardigma Positivisme

Pardigma ini menyatakan bahwa ilmu didasarkan pada hukum – hukum dan prosedur – prosedur baku.[4]

2. Paradigma Interpretif

Menyatakan bahwa pengetahuan dan pemikiran awam berisikan arti atau makna yang diberikan individu terhadap pengalaman dan kehidupannya sehari – hari, dan hal tersebutlah yang menjadi langkah awal penelitian ilmu – ilmu social.

C. Paradigma Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi.[5] Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekwensi-konsekwensi dari sejumlah pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian, batasan-batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terkspresi secara eksplisit.

Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif, seperti Fenomenologi, Interaksionisme simbolik, dan Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemuan mereka, yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subyek yang mempunyai kebebasan menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku.

Paradigma kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Keteraturan itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu, bukan menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan teori yang ada. Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari kancah – bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya, secara epistemologis, paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi.

Dalam penelitian kualitatif, ‘proses’ penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh. Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti alam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawakan.

Khusus dalam proses analisis dan pengambilan kesimpulan, paradigma kualitatif menggunakan induksi analitis (analytic induction) dan ekstrapolasi (extrpolation). Induksi analitis adalah satu pendekatan pengolahan data ke dalam konsep-konsep dan kateori-kategori (bukan frekuensi). Jadi simbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numerik, melainkan dalam bentuk deskripsi, yang ditempuh dengan cara merubah data ke formulasi. Sedangkan ekstrapolasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan simultan pada saat proses induksi analitis dan dilakukan secara bertahap dari satu kasus ke kasus lainnya, kemudian –dari proses analisis itu–dirumuskan suatu pernyataan teoritis.

D. Macam Teori atau Pendekatan dalam Penelitian Kualitatif

Semua peneliti kualitatif, dengan cara yang berbeda – beda merefleksikan perspektif fenomenologi, dan kita menggunakan istilah ini dalam pengertian yang paling umum. Berikut ini akan diuraikan teori atau pendekatan, yang semuanya dengan perspektif fenomenologi:

  1. Pendekatan Fenomenologi

Menurut Bogdan dan Biklen (1982) peneliti dengan pendekatan fenomenologis berusaha memahami makna dari suatu peristiwa dan saling pengaruhya dengan manusia dalam situasi tertentu.[6]

Karakteristik lain dari pendekatan fenomenologis adalah sebagai berikut:

a)  Tidak berasumsi mengenai hal – hal apa yang berarti bagi manusia yang akan diteliti (Douglas)

b) Memulai penelitiannya dengan keheningan untuk menangkap apa yang sedang diteliti (Psathas)

c)  Menekankan pada aspek subyektif perilaku manusia, dengan berusaha masuk ke dalam dunia konseptual subjek (Geertz) agar dapat memahami bagaimna dan makna apa yang mereka konstruksi di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari – hari

d)  Mempercayai bahwa dalam kehidupan manusia banyak cara yang dapat dipakai untuk menafsirkan pengalaman – pengalaman dari masing – masing kita melalui interaksi kita dengan orang lain, dan bahwa hal ini merupakan makna dari pengalaman kita yang merupakan realita.

e)  Semua cabang penelitian kualitatif, peneliti menggunakan pendekatan dan mengkontruksikan penelitiannya berdasar pandangan subjek yang diteliti.

  1. Interaksi Simbolik

Interaksi simbolik merupakan satu tipe kerangka kerja fenomenologi yang sudah mapan. Pokok – pokok fikiran pendekatan interaksi simbolik adalah sebagai berikut:

a) Sesuai dengan dasar dan perspektif fenomenologis, interaksi simbolis berasumsi bahwa pengalaman manusia dimediasi oleh penafsiran terhadap peristiwa yang terjadi.

b)  Manusia bertindak bukan atas dasar respon – respon yang telah ditetapkan sebelumnya, tapi lebih sebagai interpretasi, pendefisian, symbolic animal yang perilakunya hanya dapat dimengerti oleh peneliti dengan cara masuk ke dalam proses pendefinisian dengan menggunakan observasi pertisipan.

c)  mInteraksi bukan kegiatan yang otonom, bukan pula ditentukan oleh kekuatan tertentu apapun.

d) Interpretasi adalah esensial. Interaksi simbolik menjadi paradigma yang konseptual.

e) Teori bukanlah aturan, regulasi, norma, atau apapun yang krusial dalam memahami perilaku, akan tetapi bagaiman teori ini didefinisikan dan dipakai di dalam situasi – situasi khusus.

f)   Bagian penting lain dari teori interaksi simbolik adalah susunan dari diri (self).

  1. Etnometodologi

Etnometodologi bukan menunujukkan metode yang dipakai peneliti untuk mengumpilkan data, tetapi lebih menunjukkan pada bidang kajian (subjek matter) yang diteliti. Bidang kajian etnometodelogi bukanlah anggota suku – suku primitive, tapi orang – orang dalam berbagai situasi yang ada dalam masyarakat.

Etnometodologi mencoba untuk mengarti bagaimana orang – orang mengerjakan, melihat, menjelaskan, mendeskripsikan urutan, golongan, tata tertib dalam dunia dimana mereka hidup (Bogdan & Biklen, 1982).


[1] Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006), hal. 49

[2] Asmadi Alsa, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), Hal. 32

[3] http://www.polres.multiply.com/journal/Metode Penelitian Kualitatif/.html

[4] Kristi Poerwandari, Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia, (Depok: Perfecta LPSP3. 2005), Hal. 20

[5] http://www.blogspot.com/Zulfikar’Site, Mahasiswa/28/03/08/ Paradigma Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif/html.

[6] Opcit, Asmadi Alsa, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi, Hal. 33

Masa Pubertas

A. Pengertian Pubertas

Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja dan pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ- organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja.[1]

Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual.[2] Pada masa ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah.

Pubertas berasal dari kata bubescere artinya mendapatkan pubes atau rambut kemaluan yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menampakkan perkembangan seksual.[3]

Pubertas adalah perubahan cepat pada kematangan fisik yang meliputi perubahan tubuh dan hormonal yang terutama terjadi selama masa remaja awal.[4]

Dari beberapa pengertian yang telah dijelaskan di atas dapat kita simpulkan bahwa, masa pubertas adalah masa dimana anak mengalami perkembangan yang sangat cepat pada kematangan fisik, hormone seksualitas, dan perkembangan organ – organ seksual serta organ – organ reproduksi remaja.

B. Perkembangan – perkembangan pada Masa Puber

Perkembangan pada masa pubertas meliputi hal sebagai berikut, antara lain:

a. Perkembangan Fisik

Perubahan tubuh pada remaja melingkupi perubahan tinggi, berat, penyebaran lemak dan otot, sekresi kelenjar dan karakteristik seksual yang akan berlangsung terus hingga masuk ke masa dewasa. Pada masa pubertas biasanya cewek mengalami menstruasi (menarche) pertamanya dan cowok mengalami ejakulasi pertamanya.[1]

b. Perkembangan Emosi

Masa puber merupakan masa emosi yang bergejolak. Remaja sangat peka dan menunjukkan reaksi yang kuat pada berbagai peristiwa dan situasi sosial. Dan bila sedang meledak, emosinya sering tidak proporsional.Ciri emosi lain pada remaja; ambivalensi dalam perasaan. Acapkali mengalami perasaan yang saling bertentangan –sayang dan benci, perhatian tapi juga apatis pada berbagi orang/peristiwa. Ketidak stabilan perasaan ini seringkali menimbulkan kebingungan, frustasi dan kejengkelan dalam diri remaja, dan makin membuatnya meledakledak.

c. Perkembangan Sosial

Masa Puber adalah masa mencari jati diri untuk menghadapi kedewasaan kelak. Terlihat; secara bertahap melepaskan ketergantungannya pada orang tua, namun untuk mendapatkan rasa aman biasanya dengan cara membuat kelompok dengan teman sebaya.[2] Itu sebabnya pada masa remaja teman sebaya menjadi sangat penting dalam kehidupan anak. Kelompoklah yang memegang peranan apakah si remaja dapat diterima atau disisihkan.Dalam kelompok inilah mereka belajar bergaul dengan lawan jenis, dengan dukungan teman-teman sejenisnya. Baru pada tahapan-tahapan remaja berikutnya mereka mulai tertarik untuk bergaul dengan lawan jenis secara individual.

d. Perkembangan Intelektual

Pada masa pubertas telah mencapai perkembangan mental yang memungkinkan mereka untuk berpikir dengan cara berpikir orang dewasa. Mereka tidak lagi terikat pada hal-hal konkrit dan nyata semata. Mereka mulai mampu memahami relativitas; belum tentu; tergantung; seandainya…dan sebagainya..

e. Perkembangan Moral

Masa pubertas biasanya mulai sering mempertanyakan banyak hal tentang nilai-nilai dalam kehidupan, terutama saat orang dewasa dianggap tidak memberikan jawaban jujur. Pada dasarnya dalam usia ini, cenderung idealis dan memiliki perasaan keadilan tinggi dalam hubungannya antar manusia.

f. Perkembangan Biologis dan Psikologis

Adapun pada perkembangan Biologis dan Psikologis ini dibedakan menjadi 2 antara, antara lain:

1. Ciri-ciri seks primer

Perkembangan organ-organ seks wanita ditandai dengan adanya haid pertama atau “menarche” yang disertai dengan berbagai perasaan tidak enak bagi yang mengalaminya.

Haid (menstruasi) yang pertama kali dia alami pada usia 9 tahun. Jika dilihat dari usianya saat ia mengalami menstruasi, ia masih dalam masa kanak-kanak akhir. Cukup mengejutkan dirinya saat ia mengalami menstruasi pertama, karena usia dan sifatnya yang masih kekanak-kanakan.

Setelah menstruasi itu ia alami beberapa kali, ia mulai bisa dan mengerti bahwa dirinya telah tumbuh menjadi seorang remaja. Sedikit demi sedikit dan perlahan demi perlahan ia mulai bisa meninggalkan kebiasaan sifat kekanak-kanakannya.

2. Ciri-ciri seks sekunder

Gejala yang mulai ditunjukkan dari dirinya yaitu :

a) Pinggul yang membesar dan membulat

b) Dada yang semakin nampak menonjol

c) Tumbuhnya rambuh di daerah kelamin, ketiak, lengan dan kaki

d) Perubahan suara dari suara kanak-kanak menjadi lebih merdu (melodius)

e) Kelenjar keringat lebih aktif dan sering tumbuh jerawat

f) Kulit menjadi lebih besar dibanding kulit anak-anak.



C. Tugas Perkembangan Masa Pubertas

Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka, dalam Pikunas, 1976; Kaczman & Riva, 1996). Masa remaja ditandai dengan cirri – ciri sebagai berikut, antara lain:

  1. berkembangnya sikap dependen kepada orangtua ke arah independent
  2. minat seksualitas;
  3. kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika, dan isu-isu moral (Salzman dan Pikunas, 1976).[1]

Erikson (Adams & Gullota, 1983:36-37; Conger, 1977: 92-93) berpendapat bahwa remaja merupakan masa remaja merupakan masa berkembangnya identity. Identity merupakan vocal point dari pengalaman remaja, karena semua krisis normatif yang sebelumnya telah memberikan kontribusi kepada perkembangan identitas ini.[2] Erikson memandang pengalaman hidup remaja berada dalam keadaan moratorium, yaitu suatu periode saat remaja diharapkan mampu mempersiapkan dirinya untuk masa depan, dan mampu menjawab pertanyaan ‘siapa saya?’.[3] Dia mengingatkan bahwa kegagalan remaja untuk mengisi atau menuntaskan tugas ini akan berdampak tidak baik bagi perkembangan dirinya.

Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka mungkin akan mengembangkan perilaku yang menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas, atau menutup diri (mengisolasi diri) dari masyarakat.

Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada pusaka penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Menurut Hurlock (1991) tugas perkembangan pada masa remaja adalah sebagai berikut:

1) Berusaha mampu menerima keadaan fisiknya.

2) Berusaha mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.

3) Berusaha mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.

4) Berusaha mencapai kemandirian emosional

5) Berusaha mencapai kemandirian ekonomi.

6) Berusaha mengembangkan konsep dan keterampilan-keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melukukan peran sebagai anggota masyarakat.

7) Berusaha memahami dan mengintemalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.

8) Berusaha mengembangkan perilaku tanggungjawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.

9) Berusaha mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

10) Berusaha memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.[4]

Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-tugas perkembangan dalam waktu yang relatif singkat akan megakibatkan perubahan usia kematangan yang sah menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang mengganggu para remaja.

Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini sangat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yakni fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif tingkat ini akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan ini, remaja memeriukan kemampuan kreatif. Kemampuan kreatif ini banyak diwamai oleh perkembangan kognitifhya.


[1] http://ilmupsikologi.wordpress.com/2009/12/11/tugas-perkembangan-remaja/

[2] Opcit, http://arihdyacaesar.wordpress.com

[3] http://downixs.wordpress.com/2010/01/06/tugas-perkembanganremaja/#more-290

[4] Hurlock, Elizabeth B, Psikologi Perkembangan, ( Jakarta : Erlangga.1980), hal. 212


[1] http://wordpress.com/08/09/08/perkembangan-perkembangan pada masa buber/.html

[2] Ibid, hal selanjutnya


[1] http://www.sholeha.com/uin-pai/psikologi perkembangan remaja/.html

[2] opcit, www. wikipedia.com

[3] Sri Rumini dan Siti Sundari, Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta: PT. Rineke Cipta. 2004), Hal. 63

[4] John W. Santrock, Adolescence (Perkembangan Remaja), (Jakarta: Erlangga.2003), Hal.87